Tarian Tayup, Tradisi Yang Tetap Hidup
YOGYA (KRjogja.com) - Tari Tayub atau tari pergaulan tradisi yang dipentaskan dalam acara Gelar seni Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada Minggu (29/5) tidak hanya sekedar memberikan hiburan semata bagi penonton. Namun sejatinya tarian ini mempunyai makna dan cerita dengan memiliki aspek kerukunan dan kedamaian yang ingin selalu dicapai disetiap pementasannya.
Salah satu sanggar tari tradisi yang masih bertahan dan konsisten menyajikan tarian tradisi yaitu Paguyuban Seni Tayub Lebdo Rini yang terus berupaya melestarikan seni tayub ini. Paguyuban yang berdiri sejak 9 April 1994 di Semin, Gunung Kidul ini secara konsisten dan hingga sekarang masih bergeliat dan beregenerasi.
“Tayub itu berasal dari dua kata dlam bahasa Jawa, yakni ‘Toto’ dan ‘Guyub’. Dari dua kata tersebut aspek yang hendak dicapai adalah rukun,” jelas Pemimpin Paguyuban Seni Tayub Lebdo Rini, Tarwanto di TBY, Minggu (29/5)
Tarwanto menjelaskan, dalam pelestarian dan pengembangan seni tradisi dari jaman ke jaman, kesenian yang dulu digunakan sebagai hiburan di kerajaan ini, kini dikembangkan oleh masyarakat di desa menjadi kesenian tradisi masyarakat. Disebut debagai tari pergaulan tradisional, dalam pementasannya kesenian ini memang terkesan lebih luwes ketimbang kesenian lain karena terdapat beberapa unsur, antara lain gamelan, campursari dan tarian.
Seperti yang ditampilkan di acara Gelar Seni TBY kemarin, paguyuban Lebdo Rini membuka dengan tembang perkenalan dengan nyanyian campursari, kemudian dilanjutkan dengan tari Gambyong oleh 3 orang penari perempuan. Setelah itu, masuk sesi yang lebih santai, seperti sebutannya sebagai tari pergaulan, maka para penari mengajak penonton untuk ikut menari bersama, dengan musik campursai maupun dangdut. Pementasan pun semakin menarik, karena antara pemain seni tayub dengan penonton membaur jadi satu dan tidak ada batas.
Lebih lanjut dipaparkanya, banyaknya ragam seni yang ada dalam seni Tayub, juga membuat kesenian ini tidak pernah ditinggalkan, bahkan terus hidup hingga sekarang. “Kalau ditempat kami peminatnya cukup banyak dan masih ada, karena seni Tayub termasuk kesenian yang lebih luwes dari jenis kesenian lain, karena disana ada gamelannya, ada campusarinya, ada tarinya juga,”ujarnya.
Tarian ini memang memiliki aspek yang hendak dicapai yakni kerukunan yang sudah ada sejak zaman Pangeran Samber Nyowo Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Di jaman ini, tayub digunakan sebagai hiburan di kerajaan saat ada penobatan penggawa kerajaan.
“Selain itu, tayub juga digelar saat prosesi pesta panen pertanian atau digelar untuk memboyong dewi pangan dari sawah dan ladang menuju lumbung padi,” pungkasnya. (Fir)









